Dyan Ristiana

Progdi Bimbingan dan Konseling Universitas Pancasakti Tegal

Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling

pada Mei 2, 2012

Bimbingan dan Konseling sebagai profesi pertama kali lahir di Amerika pada awal abad XX, yaitu ketika Frank Person membuka klinik di Boston untuk memberi pengarahan kepada para pemuda memperoleh pekerjaan yang sesuai. Pada tahun 1950 an bidang ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, bukan hanya dalam bidang pekerjaan tetapi merambah pada bidang-bidang pendidikan. Rehabilitasi, kerumah tanggaan, penanganan tindak kriminal, kenakalan remaja, juga di rumah sakit, pabrik-pabrik dan bahkan di rumah militer.

Dari segi wilayah geografi, bimbingan dan konseling tidak lagi tidak lagi terbatas hanya di Amerika, tetapi berkembangan menjalar ke Eropa, Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Australia. Tahun 1970-1980 bimbingan dan Konseling masuk ke dalam kurikulum Sekolah Menengah di negeri-negeri yang mengambil sistem pendidikan Barat.

Munculnya Bimbingan dan Konseling di Amerika pada awal abad XX merupakan tuntunan logis dari dinamika masyarakat Amerika ketika itu. Sebagaimana diketahui bahwa pandangan hidup masyarakat Amerika dan Barat pada umumnya bersumber dari budayanya yang sekuler dan liberal. Oleh karena itu filosofi dari Bimbingan Konseling di sana juga tak terlepas dari faham sekuler dan liberal.

Meskipun konsepsi Bimbingan dan Konseling di Barat dilahirkan oleh para ahli yang tak diragukan kapasitasnya, tetapi konsep-konsep yang boleh jadi cocok untuk masyarakat Barat tidak otomatis dapat diterapkan pada masyarakat lain, masyarakat Islam misalnya.
Kesulitan menerapkan prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling Barat di lingkungan msyarakat Islam disebabkan oleh falsafah hidup yang berbeda, antara lain :

1. Jika masyarakat Barat memisahkan Negara dan agama, masyarakat Islam tidak mengenal pemisahan yang sebenarnya antara agama dan kehidupan, antara masjid dan lapangan kerja. Bimbingan dan Konseling di masyarakat Islam harus berdiri diatas prinsip keterpaduan antara agama dan kehidupan duniawi.

2. Masyarakat Barat menganut kebebasan individual (dan kelompok yang sangat liberal, tercermin pada pergaulan bebas, norma seksual yang sangat longgar asal tidak mengganggu orang lain, sementara masyarakat muslim sangat menjunjung tinggi kesucian perkawinan, kehormatan wanita, berbakti kepada orang tua yang sudah renta, dan mengagungkan nila-nilai akhlak, iman dan takwa. Masyarakat Islam tidak mengenal kebebasan individual dalam arti se bebas-bebasnya, karena dibatasi oleh norma-norma tradisi, agama dan akhlak. Masyarakat muslim masih menjungjung tinggi prinsip-prinsip berbakti kepada orang tua, sopan santun social dan tradisi keagamaan.

3. Banyak hal-hal yang di Barat tidak dipermasalahkan, tetapi pada masyarakat Islam justeru hal itu diharamkan, misalnya; perjudian, perzinaan, gay, menyakiti orang tua, boy friend, tukar kunci dan sebagainya.

4. Pedekatan Bimbingan dan Konseling yang dilakukan di Amerika sendiri menunjukan kegagalan, seperti yang tercermin dalam angka statistik yang dikutip oleh Dr. Abd. Rahman Isawi dan seruan kecemasan ahli-ahli sosial AS menyangkut masa depan generasi mendatang.

Angka-angka statistik tersebut menunjukan bahwa :
a. Jumlah lembaga pendidikan tenaga konseling, tahun 1910, ada 475 lembaga, dan pada tahun 1980 telah menghasilkan 50.000 konselor kejiwaan dan 70.000 konselor pendidikan.
b. Jumlah perilaku menyimpang 1957 19,1 /1000
1974 37,5/1000
1977 200/1000
c. Anak sekolah yang hamil di luar nikah pada tahun 1957 mencapai 10 %
d. Penderita penyakit kelamin di kalangan pelajar tahun 1956 s/d 1973 naik 300 %
e. Mahasiswa peminum mencapai 52 % (1956), 72 % (1973), 87 % (1977)
f. 3-4 juta anak SLP drop out/lari dari sekolah.

Dengan demikian maka pelaksanaan bimbingan dan konseling, apalagi konseling agama pada masyarakat Islam seperti di Indonesia, menuntut adanya pandangan kritis terhadap falsafah masyarakat barat dimana ilmu itu lahir dan berkembang, seraya menggali ajaran Islam dan tradisi masyarakat muslim berkaitan dengan pandangan hidupnya.

Bimbingan Konseling merupakan olmu terapan yang pelaksanaanya bertujuan membimbing dan memperbaiki individu-individu dalam arti memperbaiki perilaku mereka serta membantu menyesuaikan mereka terhadap dirinya, pekerjaannya, pendidikannya, rumah tangga dan keluarganya, sampai individu-individu itu merasa wajar, mereasa berharga dan dapat mengecap kebahagiaan idup sesuai dengan kondisinya.

Praktek bimbingan dan konseling menjadi lancar jika ada kesesuaian antara konselor dan klien. Menurut Dr. Abd. Isawi, yang dapat dilakukan oleh seorang konselor
ahli, antara lain dapat membantu klien;
1) Memahami dirinya sendiri,
2) Mengukur kemampuannya,
3) Mengetahui kesiapan dan kecenderungannya,
4) Memperjelas, orientasi, motivasi dan aspirasinya,
5) Mengetahui kesulitan dan problem lingkungan dimana ia hidup, serta peluang yang terbuka baginya,
6) Membantu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menempatkan tujuan yang paling kongkrit bagi dirinya,
7) Mendorong klien untuk berani mengambil keputusan yang sesuai dengan kemampuanya, dan memanfaatkan seoptimal mungkin potensi yang ada pada dirinya untuk merebut peluang yang terbuka.

Bagi klien yang berasal dari lapisan orang kebanyakan, konseling dibutuhkan untuk;
1. Membantu pengembangan diri dan memilih gaya hidup (life style) yang sesuai dengan aspirasinya.
2. Menjaga agar mereka tidak terjatuh lagi pada problem psikologi yang membuat merek “kurang wajar” dan tidak bahagia dalam hidup, dan
3. Membantu mengatasi kesulitan dalam mengambil keputusan menyangkut pilihan belajar atau bekerja, dan
4. Membantu meringankan perasaan tertekan, frustasi dan sebangsanya.

Karena pekerjaan konseling itu menyentuh hal-hal yang peka, maka hubungan antara konselor dank lien harus atas dasar suka sama suka, saling mempercayai dan tanpa ada perasaan terpaksa.


5 responses to “Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling

  1. FIKRIMUIS mengatakan:

    SIP DAH………

  2. Sri Murni mengatakan:

    sipp…!!!!!

  3. dyanzt mengatakan:

    okeh okeh,,
    makih,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: